1 Bulan Menjelang Cerai, Ia Hanya Minta Digendong ke Kamar Seperti Hari Pertama Menikah. Tak Disangka “Maksud Dibaliknya” Membuat Sang Suami Menangis!

Setiap pasangan suami istri selalu mendambakan hubungan rumah tangga mereka harmonis hingga akhir hayatnya. Setiap pasangan suami istri mengharapkan hanya maut yang memisahkan mereka. Namun kini, banyak dari mereka yang nyatanya tak sanggup meneruskan rumah tangga hingga berakhir dengan perpisahan atau perceraian. Banyak faktor penyebabnya, penulis yakin semua tau apa faktor tersebut. Namun sebuah video yang akan di tayangkan ini semoga menjadi pengingat agar kamu dan pasangan dijauhkan dari perpisahan tersebut. Yuk simak videonya di bawah ini:

“Hari itu aku harus mengatakan semuanya. Ku berikan surat permintaan cerai, namun istriku merobeknya. Ia menangis mencabik kertas cerai itu dan melemparkannya padaku. Raut wajahnya terlihat sangat marah, kesal, namun terlihat ia tak mampu melepasku. Aku hanya tertunduk diam tak mengucap 1 katapun.


Sekiranya waktu dapat diputakan kembali. Aku akan pastikan aku takkan salah memilih jalan. Aku memiliki wanita lain bernama Aini. setiap hari aku selalu pulang larut malam karena aku bertemu dengannya. Sesampainya di rumah, aku melihat wajah istriku. Iya, istriku merupakan salah satu kesalahan aku dalam membuat pilihan. 10 tahun pernikahan aku dengannya aku merasa tak bermakna. Oleh karena itu, tepat di malam setelah istriku menyiapkan makan malam yang tak ku makan, aku mengutarakan keinginan untuk bercerai.


Saat ia bertanya ‘kenapa’ aku tak menjawabnya karena diamnya aku akan lebih menyakiti hatinya lebih dahsyat dari aku mengatakan alasanku untuk menceraikan dia. Aku bingung apa yang harus aku katakan padanya, aku bingung bahgaimana aku jujur bahwa aku mencintai wanita lain teman kerjaku Aini selama 2 tahun


‘Setelah aku ceraikan kamu, rumah, mobil, 30% uang penghasilanku akan jadi milikmu’ itulah yang aku ucapkan padanya sambil memberikan surat cerai. Namun ia merobeknya, aku melihat kemarahan dan rasa kesal yang begitu besar. Ya! Aku sudah mengira dari awal apa yang akan terjadi hari ini. Aku merasa kasian padanya namun itu takkan merubah keinginanku untuk bercerai. Tangisannya sebenarnya membuat aku sedikit lega. Rencana cerai yang sudah aku pikirkan dari seminggu yang lalu kini semakin ingin ku lakukan.


Malam itu aku pulang terlambat ke rumah. Aku menghabiskan waktuku dengan Aini. istriku belum tidur dan ia sedang menulis sesuatu, namun aku memutuskan untuk mengabaikan dia dan masuk ke kamar tidur. Keesokan harinya istriku membuat permintaan terakhirnya sebelum bercerai. Permintaan itu adalah


‘Dalam waktu 1 bulan ini aku hanya ingin hidup,kerja seperti biasa. Anak kita Aisyah ada pemeriksaan bulan ini, aku tak mau emosi dia terganggu. Lalu, aku mau setiap malam kamu yang tidurkan Aisyah. Permintaan kedua adalah ….’


Aku sempat mengatakan dua permintaan itu pada Aini, namun ia menertawakan ia mengatakan jika istriku adalah perempuan yang aneh. Namun tak terlalu aku hiraukan. Mulai hari itu setiap malam aku yang tidurkan Aisyah, memberikan ia dongeng hingga ia terlelap. Aku pun yang mengasuh bayi kami. Dan mulai hari itu aku juga mengabulkan keinginan yang kedua..


‘Saya mau, abang gendong saya ke tempat tidur setiap hari selama 30 hari ini seperti hari pertama kita menikah’. Aisyah yang melihat aku mengendong istriku sangat senang, namun istriku mengatakan jangan pernah beritau apa yang terjadi pada Aisya. Hari demi hari aku melakukan hal yang sama pada anakku dan istriku terus menerus berulang-ulang. Kadang-kadang saat aku menggendongnya aku bertanya pada diri sendiri apa yang sudah aku berikan untuk bahagiakan wanita yang sedang ada di pangkuanku ini. Ia adalah wanita yang menghabiskan waktu 10 tahunnya bersamaku, memberikan buah hati yang sangat aku sayangi.


Pada hari ke 20, aku merasakan bagaimana rasanya dulu di hari pertama aku menikahinya. Hari ini merupakan hari terakhir aku melaksanakan keinginan terakhir istriku. Kali ini terasa berbeda, setiap langkah ini terasa sangat berat. Istriku berkata inilah hari terakhir kita bersama, ia meminta maaf untuk semua kesalahan yang ia lakukan. Ia pun mendoakan semoga aku bisa bahagia dengan wanita pilihan hatiku nanti.


Dekapan hangat terakhir yang aku berikan akan selalu ia ingat dan ia rindui selamanya. Aku menangis, akupun meminta maaf karena tak bisa memberikan kasih sayangku padanya. Esok harinya aku memutuskan untuk tak menceraikan istriku, aku hubungi Aini untuk mengatakan semuanya dan meminta maaf atas keputusanku itu. Aku merasa saat pertamakali aku membawanya setelah pernikahan itu berarti akupun harus bersamanya hingga akhir hayat. Namun…


Saat aku sampai rumah, istriku tak bangun lagi, untuk selamanya…Ternyata isi surat itu...


‘Maafkan aku atas permintaan yang membuatmu kesal. Aku melakukan ini smeua karena aku memikirkan anak-anak. Aku ingin anak kita melihat bahwa ayahnya adalah seorang bapak yang penyayang dan mencintai ibunya hingga akhir hayatku. Sudah berbulan-bulan aku melawan kanker. Berat badanku berkurang dengan drastis, maka dari itu banyak baju yang sudah tak muat begitu juga gaun pengantinku. Saat itu aku sadar hidupku takkan lama, maka aku takkan menghalangi kamu menikah dengan wanita lain yang kamu cintai. Cukuplah kamu merealisasikan permntaan terakhirku agar aku bisa merasakan bagaimana saat awal-awal pernikahan kita. Karena itu cukup membuatku bahagia dan pergi dengan tenang.’

Aku sangat menyesal atas pilihan bodohku, sekiranya waktu bisa diputar kembali aku akan pastikan aku takkan salah dalam memilih pilihanku.”

Sumber: Youtube ASA Production